Jakarta, 2 November 2025 – Di tengah pembatasan ekonomi yang semakin terasa akibat inflasi dan ketidakpastian global, tren thrifting atau berbelanja barang bekas berkualitas semakin menjadi pilihan utama bagi generasi muda Indonesia. Kisah Aza dan Malihah, dua perempuan milenial di Jakarta, menjadi contoh nyata bagaimana praktik ini membantu mereka bertahan secara finansial tanpa mengorbankan gaya hidup modis.
Menurut cerita yang dibagikan dalam laporan Kompas.com, Aza (28), seorang pekerja lepas di bidang desain grafis, memilih thrifting untuk memenuhi kebutuhan pakaian sehari-hari. "Saya biasa belanja di pasar thrift seperti Pasar Baru atau platform online, bisa hemat hingga 70% dibanding beli baru. Di tengah gaji yang stagnan dan biaya hidup naik, ini solusi praktis," ujar Aza. Ia mengaku sering menemukan item bermerek seperti jaket denim atau tas branded dengan harga di bawah Rp100.000, yang biasanya dijual ratusan ribu di toko resmi.
Sementara itu, Malihah (25), mahasiswi pascasarjana yang bekerja paruh waktu, melihat thrifting sebagai cara untuk menjaga keseimbangan antara pengeluaran dan gaya hidup berkelanjutan. "Saya thrifting untuk baju kerja dan aksesoris, terutama saat pembatasan belanja bulanan karena kenaikan harga bahan pokok. Ini juga ramah lingkungan, karena mengurangi limbah tekstil," katanya. Malihah sering berburu di thrift shop populer di Jakarta seperti Tebet Estate atau Blok M, di mana koleksi impor dan lokal bercampur, menawarkan variasi unik yang sulit ditemui di mal konvensional.
Fenomena ini bukan sekadar cerita pribadi. Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa thrifting telah menjamur sejak 2022, didorong kesadaran Gen Z terhadap keberlanjutan dan hemat. Lebih dari 60% responden Gen Z mengaku lebih memilih barang preloved untuk mengatasi keterbatasan finansial, menurut survei yang dilansir Merdeka.com. Di Jakarta, tempat seperti Pasar Senen dan toko online Shopee atau Tokopedia penuh dengan lapak thrifting yang ramai, dengan transaksi harian mencapai ribuan unit.
Namun, di balik manfaatnya, thrifting juga menuai kontroversi. Pemerintah, melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, berencana memperketat impor pakaian bekas ilegal mulai akhir 2025. Langkah ini bertujuan melindungi industri tekstil lokal yang mengalami kerugian hingga triliunan rupiah akibat banjir barang impor, seperti dilaporkan Detik Finance. "Jika suplai impor mati, industri domestik bisa bangkit, tapi pedagang kecil seperti kami khawatir kehilangan mata pencaharian," kata Rendy, pedagang thrifting di Pasar Baru yang sudah 14 tahun bergelut di bidang ini.
Meski demikian, thrifting legal dari barang domestik tetap didorong sebagai alternatif. Pakar ekonomi dari Universitas Indonesia menilai tren ini bisa menjadi peluang bagi UMKM lokal jika diarahkan ke produksi berkelanjutan. "Thrifting bukan hanya hemat, tapi juga mendukung ekonomi sirkular," tambahnya.
Kisah Aza dan Malihah menginspirasi banyak orang untuk mencoba thrifting sebagai strategi adaptasi di era pembatasan. Dengan tips sederhana seperti memeriksa kualitas barang dan memilih sumber terpercaya, praktik ini bisa menjadi gaya hidup jangka panjang yang bijak secara finansial dan lingkungan.