Mengabadikan Punen Eeruk: Lensa Fotografer Dokumentasikan Ritual Sakral Pengakhiran Masa Berkabung Mentawai

Mentawai, 1 November 2025 – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masyarakat adat Mentawai di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, terus teguh menjaga dan melestarikan tradisi leluhur mereka. Salah satu ritual adat yang kaya makna dan berhasil diabadikan dalam bingkai fotografi adalah "Punen Eeruk", sebuah upacara sakral yang menandai berakhirnya masa berkabung keluarga.


Punen Eeruk, yang merupakan bagian dari kepercayaan Arat Sabulungan, adalah sebuah pesta adat besar yang diselenggarakan untuk menghibur arwah leluhur dan membersihkan diri dari hal-hal buruk. Ritual ini umumnya dimulai dengan perbaikan *uma*, rumah panggung tradisional Mentawai, dan berlangsung selama tiga hari tiga malam di *uma* keluarga yang berduka.

Fotografi dokumenter memiliki peran krusial dalam merekam dan menyebarluaskan kekayaan budaya Suku Mentawai. Melalui lensa kamera, setiap detail Punen Eeruk, mulai dari persiapan, prosesi yang melibatkan *Sikerei* (dukun Mentawai), hingga ekspresi wajah para peserta ritual, dapat terabadikan. Etnofotografi, atau etnografi visual dengan pendekatan fotografi, memungkinkan kita memahami perilaku sosial dan budaya masyarakat Mentawai yang unik, yang dikenal masih sangat bergantung pada alam dan hidup jauh dari peradaban modern.

Ritual E’eruk, atau *kamateijat*, merupakan aktivitas pembersihan diri dari hal-hal buruk menurut kepercayaan masyarakat adat Mentawai, yang diikuti oleh keluarga dan seluruh anggota suku. Pada Juli 2025 lalu, seorang *Sikerei* bahkan terlihat menjalankan ritual serupa pada upacara memperingati kematian di Dusun Onga, Desa Matotonan, Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai.

Suku Mentawai sendiri dikenal sebagai salah satu suku tertua di Indonesia, yang telah ada sejak 500 SM. Mereka mempertahankan nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal yang kuat, menjadikan hutan sebagai jantung kehidupan dan sumber pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

 Tradisi unik mereka, seperti penggunaan tato di sekujur tubuh yang berkaitan dengan peran dan status sosial, juga kerap menjadi daya tarik bagi para fotografer dokumenter dan peneliti budaya.


Dokumentasi melalui fotografi tidak hanya penting untuk tujuan penelitian, tetapi juga sebagai upaya pelestarian agar generasi mendatang dapat memahami dan menghargai kekayaan budaya Suku Mentawai yang otentik, di tengah gempuran perubahan zaman. Pameran foto seperti "Mugejeg" pada tahun 2018 yang menyajikan cerita perjalanan ke Suku Mentawai, menunjukkan bagaimana fotografi dapat menjadi jembatan antara alam dan tradisi, membawa eksotisme Mentawai ke khalayak luas. 

0 Comments